Selasa, 05 Mei 2015

Cornering

CORNERING

Pengertian Cornering


Cornering adalah suatu teknik memacu motor di tikungan dengan memiringkan motor dan menurunkan satu kaki (merebahkan motor), Menikung Secara sederhana (cornering/turning) dapat didefinisikan sebagai “membelokkan kendaraan ke arah yang dituju”. Bisa kiri atau kanan. Bisa akibat tikungan atau sekedar menghindari kendaraan atau benda tertentu di jalan. Namun demikian, dalam dunia otomotif ada perbedaan antara gaya menikung pada mobil dan motor.


            menikung adalah sebuah aspek dasar dari riding skill yang memang seharusnya dikuasi oleh setiap pengendara roda dua. Jadi bukan soal gaya gayaan atau action semata. Didalamnya termasuk ada braking skill, body position, focus and concentration, dsb, oleh karna itu jangan hanya sekedar menikung tetapi harus memahami terlebih dahulu agar tidak celaka.

Persiapan/Prepare Cornering

            Untuk melakukan cornering yang aman jangan lupa menggunakan peralatan keamanan, jangan sampai cornering atau touring cuma pake kolor dan sendal, mari kita bahas apa saja yang kita perlukan saat cornering.

1. Helm
Pakailah Helm yang layak dan telah teruji ketahan nya, helm full face jauh lebih baik daripada half face dari segi keamanan. Gunakanlah helm yang nyaman dan tidak menyiksa kepala anda, pastikan lubang ventilasi cukup sehingga anda tidak merasa panas pada saat menggunakanya. Untuk kriteria helm layak mungkin semua orang juga sudah tau, yang berstandrad DOT, SNI, Snell, Dsb.


(Contoh Helm FullFace dan berstandar internasional, dan sering dipakai untuk ajang balap.)

2. Gloves

Buat yang satu ini nampaknya memang ada beberapa orang yg kurang suka menggunakannya untuk dipakai harian, tapi sebaiknya mulailah belajar untuk menggunakannya setiap hari dalam kondisi apapun pada saat berkendara, sarung tangan ini kan tidak terlalu mahal dan mudah mendapatkannya, cobalah mencari bahan kulit dan jgn bahan kain untuk proteksi yang lebih baik.


(Contoh Gloves yang dipakai untuk keperluan balap, karna melindungi hingga pergelangan tangan)

3. Shoes

Riding Shoes jauh lebih baik daripada sepatu harian biasa, tetapi dengan menggunakan sepatu sehari hari pun masih jauh lebih baik dibanding menggunakan sandal.


(Contoh sepatu balap yang melindungi kaki kita dan mempermudah dalam shift gear serta tidak menggunakan tali yang membuat risih serta tersangkut pada step motor, dan banyak pula ukuran dari yang sedang hingga tinggi sampai menutupi lutut kaki.)

4. Jacket

Buat jaket ini sekarang udah banyak riding jacket yang cukup murmer kok, mulailah memakai jacket setiap riding guys, selain melindungi dari sengatan matahari, jaket juga bertugas untuk melindungi badan anda apabila terjadi kecelakaan.

(jaket sangat berperan penting apabila bikers jatuh dari kendaraan, berfungsi meminimalkan gesekan pada aspal jalan.)

5. Pants

Riding Pants memang harganya masih termasuk mahal. Gunakanlah celana yang sekiranya dapat melindungi bagian bawah tubuh anda dengan baik. Usahakanlah hindari pemakaian celana pendek pada saat riding guys.

(Celana jeans adalah pilihan tepat, karna setiap orang pasti punya celana tersebut dan usahakan yang panjang.)

6. Knee or elbow Protector

Pelindung lutut dan sikut ini sekarang harganya sudah cukup terjangkau kok. Yakinkan untuk menggunakanya guys apabila merasa perlu.

(dekker sangat perlu karna berfungsi untuk menahan gesekan antara lutut dengan aspal pada saat knee down.)


Checking Kendaraan Sebelum Cornering


·        Cek Tekanan BAN

Pastikan jangan terlalu keras and jangan terlalu empuk, untuk depan bisa 26-28 psi, belakang bisa 28-32 Psi, karna efek dari tekanan ban yang tidak sesuai, membuat handling ban tidak sempurna dan menyebabkan hilangnya kestabilan pada saat merebah.

·        Cek Isi Tangki/Bahan Bakar

Hal utama yaitu bahan bakar, selalu cek bahan bakar agar tidak repot mundar-mandir pom bensin

·        Cek Rem

Berfungsi dengan baik atau tidak, kalo ragu sebaiknya urungkan niat cornering, karna rem sangat berperan penting dan bersifat krusial pada saat cornering.

·        Cek Lampu Depan

Nyalah atau tidak, karna lampu depan sebagai alat penerangan agar terhindar dari lubang-lubang jalan, jalan basah, yang mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan, terutama pada malam hari, karna cornering yang biasa saya lakukan pada malam hari.

·        Cek NYALI

Sudah siap apa belum ? kalau belum, mending duduk manis sambil ngopi dan nonton aksi-aksi cornering bikers lainnya, dan bisa memperhatikan gaya/teknik yang mereka gunakan, biasanya si habis ngopi liat bikers lain pada turun lama-lama kita panas sendiri dan pasti kita turun juga.

            Jika semua persiapan sudah terlaksanakan jangan lupa untuk berdoa menurut keyakinan masing-masing agar kita terhindar dari kejadian-kejadian yang kita tidak inginkan, so... jaga emosi dan tetap SAFETY RIDING.

Teknik Cornering

KONSEP BODY POSITION IN CORNERING

            Sesuai masukan dari teman-teman Bikers lainnya posisi badan di tikungan jika memang ingin sukses melahap tikungan hal yang harus kita lakukan adalah sering-sering belajar dari sumber-sumber atau para ahli dalam balap sirkuit, lalu kita harus mencoba serta berevaluasi pada diri kita akan hasil yang kita peroleh selama melibas tiap-tiap tikungan.
            Setiap rider bisa saja mengadaptasi gaya menikung sesuai postur tubuh ataupun seleranya masing-masing. Misalnya seperti yang ditunjukan oleh gambar populer yang banyak ditemukan diberbagai forum cornering lovers, sebagai berikut:


Foto ilustrasi diatas menjelaskan tentang berbagai type Body position yang bisa diterapkan saat cornering. Semuanya bagus dan tak ada yang salah. Hanya saja setiap posisi memiliki karakteristik masing-masing terkait Perbedaan derajat kemiringan rider VS derajat kemiringan motor (lean angle) yang mempengaruhi center of gravity atau titik pusat keseimbangan di tikungan.

            Singkatnya begini, saat kita mencoba merebah/menikung (anggap aja kekiri), ada dua gaya/kekuatan yang saling tarik menarik dan menciptakan titik keseimbangan motor sehingga motor bisa tetap berdiri. Yg pertama adalah gaya gravitasi yang menarik motor kebawah (kearah dalam tikungan). Yang kedua adalah gaya sentrifugal atau inertia yang menarik motor ke arah berlawanan (ke kanan/luar tikungan). Bayangkan saat kita jadi penumpang bis ugal-ugalan yang belok tajem ke kiri, badan kita justru seakan tertarik berlawanan dg arah tikungan kan? Nah itulah efek inertia atau centrifugal force.

            Gaya sentrifugal semakin besar seiring kecepatan. Makanya semakin kenceng motor, semakin berat/susah direbahinnya. Semakin pelan motor semakin gampang dimiringin. Nah kalo pelan banget? ya gubrak jatoh ke tanah….karena gaya sentrifugalnya kurang, kalah sama gaya gravitasi, hehe. Makanya untuk bisa kneedown diperlukan speed yang cukup di tikungan, supaya gaya sentrifugal nya cukup unutuk menjaga motor bertahan gak ambruk di tikungan walau ‘ditarik’ bobot badan dan gravitasi.

Dari gambar body positioning diatas, ada prinsip penting yang bisa kita simpulkan yaitu:

1. Rider dan Motor merupakan satu kesatuan yang memiliki satu titik tengah keseimbangan (center of gravity). Saat menikung, posisi badan pengendara akan mempengaruhi titik keseimbangan keseluruhan

2. Posisi badan yang tegak/menjauh dari tikungan (contoh gbr no 2) secara otomatis akan memaksa motor menjadi lebih miring untuk mempertahankan titik tengah keseimbangan (center of gravity). Sebaliknya, posisi badan yang lebih turun/menggantung ke arah dalam tikungan (no 3) akan membuat motor lebih tegak untuk menyeimbangkan center of gravity. Bisa terlihat jelas dari perbandingan kemiringan motor pada gaya menikung NO 2 vs NO 3.

3. Posisi badan hanging off (badan lebih rendah/condong ketikungan) dianggap lebih aman dan menguntungkan karena membuat motor tidak terlalu miring. Motor yang lebih tegak membuat permukaan/tapak ban yang menempel dengan aspal masih banyak. Sehingga mengurangi resiko hilang grip/low side. Dalam situasi race, ini menguntungkan karena motor bisa digas/berakselerasi lebih awal saat mau keluar tikungan. 


Ilustrasi lain yang lebih sederhana juga ditunjukan oleh foto berikut ini:


Keterangan Gambar.
Style 1. : Disebut counter weight. Saat menikung, posisi rider justru menjauh dari tikungan. Badan duduk tegak, Motor yang didorong miring. Tangan dalam (tangan kiri) cenderung lurus dan kaku. Style ini kurang cocok untuk dipakai melibas tikungan dengan kecepatan tinggi. Beresiko tinggi ban tergelincir karena motor harus sangat miring bila ingin menambah kecepatan di tikungan.

Style 2 : Kebalikan dari gaya pertama. Disini pengendara memasuki tikungan dimulai dengan dagu dan bahu yang dicondongkan ke arah dalam tikungan. My Neutral StylePantat digeser sedikit saja keluar jok, dan mengalihkan sebagian bobot tubuh ke footstep dalam (kiri) sehingga siku tangan bisa lebih rileks. Gaya seperti ini cocok untuk dipergunakan sehari-hari saat menikung dijalanan biasa. Digambar ini disebut Upper Body Shift karena hanya pinggang keatas yang bergeser titik beratnya. Sebagian kalangan juga menyebut gaya ini sebagai Neutral Style. Saya sendiri juga termasuk pengguna gaya netral atau neutral style ini.

Style 3 : Style ketiga disebut Full Body Shift karena si pengendara memanfaatkan perpindahan bobot badan keseluruhan secara optimal. Menggeser pantat keluar minimal 1 belahan bokong ada diluar jok, bahkan banyak yang FULL dua belahan bokong menggantung disamping jok (hanging off). Keseluruhan badan condong ke dalam tikungan, Kepala dan dan bahu condong dalam tikungan, siku tangan kiri ditekuk rileks, kaki dalam dibuka dan jinjit menekan footstep, kaki luar menjepit tangki. Dengan gaya ini, motor tak perlu terlalu miring. Motor bisa lebih tegak dan leluasa menambah kecepatan ditikungan karena traksi ban lebih banyak.

            Style hanging off memang cocok untuk kondisi track (sirkuit aspal), tapi kurang bijaksana untuk dipakai menikung sehari-hari atau dijalanan umum. Bayangkan saat posisi badan menggantung begini, tiba tiba ada bahaya mendadak di tengah tikungan entah itu angkot berhenti mendadak, kucing lewat, atau lobang jalanan. Rider lebih lambat bereaksi atau bermanuver karena posisi badan yang menggantung.

MENGGANTUNG TAK SEKEDAR MENGGANTUNG

Oke, berdasarkan penjelasan gambar ilustrasi diatas, saya pun bisa mengambil kesimpulan sementara, bahwa posisi terbaik untuk kneedown adalah hanging off position. Tapi saya belum puas dengan kesimpulan ini. Karena saat mencoba posisi menggantung seperti ini rasanya kok kurang nyaman ya. Juga bila melihat pose-pose kneedown kawan-kawan, gak selalu sama cara gantung badannya.

            Segaris Rider dan MotorMencoba menggali lebih detail lagi, banyak pelajaran baru yg berharga buat saya yg newbie ini. Bahwa ternyata sekedar mengeluarkan pantat dari jok saja belum berarti sudah benar. Beberapa referensi mengatakan, yg perlu diperhatikan adalah posisi badan dari pantat sampai kepala harus diusahakan minimal pararel alias segaris dengan motor (FIG 1). Lebih baik lagi bila garis badan bisa lebih condong ke tikungan dibanding motor.

Jadi bukan hanya pantatnya saja.

            Sering ditemui, rider menggantung pantat tapi tubuh bagian atas tegak ditengah central line motor. Kalau ditarik garis imajiner, garis tubuh dari pantat ke kepala terlihat menyilang /berlawanan dengan garis motor. Posisi yang menyilang ini disebut Crossed Up atau Twisted. Posisi crossed up terlihat tidak natural, membuat pinggul menjauh dari tikungan, kepala sulit diputar, dan tangan sulit rileks karena jadi tumpuan di setang.


Contoh ilustrasi dari posisi Crossed Up atau menyilang ini bisa dilihat di foto berikut:


Pada gambar diatas, lebih dari setengah belahan bokong memang sudah keluar dari jok. Tapi garis tubuh bagian atas seperti berputar berlawanan (twisted) dengan garis posisi motor.

            Untuk mensiasati supaya posisi upper body tidak menyilang, tips yang dianjurkan adalah dengan memvisualisasikan seakan akan kita ingin berkaca pada spion arah tikungan (istilahnya ‘kissing the mirror’). Dengan begitu, posisi badan bisa lebih ideal. Garis centerline tubuh pengendara dari bokong sampai kepala berada disamping dalam garis centerline motor. 

Seperti yang nampak berikut ini:


Ilustrasi lebih sempurna ditunjukan foto para Pro racer atau pembalap beneran, yang bahkan dengan kemiringan motor yg extrem (max lean angle) tapi mampu menjaga tubuh tetap pararel dibagian dalam garis centerline motor.

BODY POSITION MOTOR SPORT (BERTANGKI) VS MOTOR BEBEK

        Rasa penasaran masih terselip di hati saya. Karena panduan yang ada semuanya merujuk pada motor sport alias motor batangan alias bertangki, bahkan seringnya moge. Saya tak menemukan satupun penjelasan yang instruktif mengenai body position di motor bebek.

           IndoprixCukup mengherankan, karena dalam asumsi saya, pasti ada perbedaan karakter motor sport dan bebek. Sebut saja misalnya bobot motor bebek yg lebih ringan dan tapak ban yang lebih kecil. Tentu tenaga yang dibutuhkan untuk merebahkan motor bebek juga tak sebesar motor sport. Lalu tiadanya tangki di motor bebek. Padahal di motor sport, kaki luar jadi tumpuan utama beban saat hanging off dengan cara menjepitkan kaki luar ke badan tangki.

Jadi apakah sama atau beda antara bopos motor sport & motor bebek?

            Entahlah, semestinya secara garis besar sama saja. Tapi mungkin gak bisa sama persis kalau dibandingkan posisi badannya. Jika memperhatikan seksama, bopos pembalap kelas bebek banyak kok yang posisi badannya tidak inline dengan motor, cenderung twisted / crossed up malah. Apakah mungkin memang motor bebek lebih enak dibawa nikung dengan gaya begitu. Who knows?. Tapi jika melihat ciri-ciri bopos ideal di motor sport, ada juga sih yang sesuai dengan ciri-ciri ideal di motor sport. Seperti ditunjukan foto pembalap kawasaki disamping ini.




Body position seperti ini sesuai dengan ciri-ciri yang dijelaskan di motor sport. Antara lain:

  • ·        Pantat keluar dari jok, tapi tetap terlihat natural. Bukan ‘gelantungan’ dimotor.
  • ·        Paha dibuka, tumpuan kaki dalam dipusatkan di bagian depan telapak kaki (jinjit).
  • ·    Garis badan sejajar dari bokong sampai kepala, lebih condong ke tikungan dibanding garis centerline motor.
  • ·        Siku tangan bagian dalam rileks ditekuk, mengontrol steering.
  • ·        Pandangan jauh kedalam tikungan (seperti mau ngaca di spion, kissing the mirror)


Sumber Refrensi :











Tidak ada komentar:

Posting Komentar